Setelah kurang lebih 1, 5 bulan kerja di sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang jasa portal, saya melihat sering sekali karyawan disana yang ‘keluar-masuk’ di perusahaan tersebut. Pekerjaan yang saya pilih ini karena saya mendapatkan ketenangan disana, setelah menolak PT. Sigma Cipta Caraka untuk di latih di surabaya dan setelah gagal test psikologi untuk menjadi trainee di BANK BCA melalui AdIns, Center of Excellence akan (ACE). Ternyata ketenangan itu pun sirna dengan bergulir nya orang-orang hebat bi kantor tersebut…
Tragis memang, mulai dari resign nya leader sysadmin, om joo. Down-nya seluruh server di saat April moop yang mengakibatkan perusahaan goncang gancing… Yah karena itu bisnis utama mereka. Akses situs2 yang di blok admin, bermunculannya peraturan baru, issue MSN akan di blok. Dan dilanjutkan dengan seorang admin juga yang paling asik di kantor, mas Lando… resign tanpa pamitan ke kawan2.
Blum berhenti disitu, partner satu divisi pun ada yang resign… seseorang yang akrab saya sapa ‘dek Pendi’ (Walau dia gak suka dipanggil itu) dengan alasan akan kerjabersama oom nya… Waw… dan yang mengagetkan lagi…. Seorang HRD yang berwibawa saat wawancara gw… ternyata GOKIL dan asik banget RESIGN juga…. ‘gak kuat’ kata sevti, seorang HRD yang kecanduan rokok…
Tambah lagi… TEROR surat kaleng kepada salah satu leader…. GILLLAAAAAA……. hari itu otak gw bingung banget…. DILEMA… inilah tempat kerja gw…. OH…. NOOOOOOOOO.
suntuk… bingung sama tempat kerjaan yang semakin kacauuu… antara 2 pilihan ‘resign juga’ atau ‘tetap berkarir disini’. Akhirnya mulai deh browsing2 lagi cari lowongan kerjaan…. wahhh gak ada yg asik…. buka email eh pas banget ada yang post artikel tentang masalah resign di kantor… artikel ini bagus banget…. ini dia artikelnya:
WHY TO MOVE
Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering ngedumel)? Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul Azim Premji, “Bill Gates” dari
Azim Premji adalah milyuner muslim dari
Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak betah dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tinkat turn-over (kepindahan) karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih tinggi dibandingkan perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS.
Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan?
Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini.
Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer software senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan internasional prestisius untuk bekerja di cabang operasinya di India sebagai pengembang software. Dia tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah mendengar banyak tentang CEO perusahaan ini, pria karismatik yang sering dikutip di berita-berita bisnis karena sikap visionernya. Gajinya hebat. Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah karyawan yang bagus, kantor yang masih baru, dan teknologi mutakhir, bahkan sebuah kantin yang menyediakan makanan lezat.
Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri untuk pelatihan. “Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru”, katanya tak lama setelah bergabung. Ini betul-betul pekerjaan yang hebat dengan teknologi mutakhir. Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah dia bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran lain di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana lagi. Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru ini.
Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia pusing akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung karena tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi walaupun gajinya besar ? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama yang mendorong banyak orang berbakat pergi. Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul First Break All the Rules.
Penemuannya adalah sebagai berikut:
Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan langsung/tertinggi di departemen mereka. Lebih dari alasan apapun, dia adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang meninggalkan manajer/direktur anda, bukan perusahaan, tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First Break All the Rules.
Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan mempertahankan orang yang bagus - dalam bentuk gaji yang lebih besar, fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab kebanyakan orang keluar adalah manajer. Kalau Anda punya masalah pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer/direktur Anda terlebih dahulu. Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari satu sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai. Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya.
Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang sulit.
Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan yang paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional dan produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia mulai mencari pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang diperintahkan saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos.
Seorang pakar manajemen mengatakan, jika Anda bekerja untuk atasan yang tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah. Anda tidak mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu. Para manajer bisa membuat karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda: dengan terlalu mengontrol, terlalu curiga, terlalu mencampuri, sok tahu, juga terlalu mengecam. Mereka lupa bahwa para pekerja bukanlah aset tetap, mereka adalah agen bebas. Jika hal ini berlangsung terlalu lama, seorang karyawan akan berhenti - biasanya karena masalah yang tampak remeh. Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 99 pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan pekerjaan karena berbagai alasan, untuk kesempatan yang lebih baik atau alasan khusus, mereka yang keluar itu sebetulnya bisa saja bertahan, kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka, seperti yang dilakukan bos Sanjay: Kamu tidak penting. Saya bisa mencari puluhan orang seperti kamu.
Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu. Kehilangan klien dan relasi yang telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril sejawat kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang dibocorkan oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja, kehilangan reputasi perusahaan. Setiap orang yang meninggalkan sebuah korporasi akan menjadi dutanya, entah tentang kebaikan atau keburukan.
Demikian pesan Azim Premji. Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun atasan) ?
sumber : Indonesia-Young-Entrepreneurship@yahoogroups.com
yah itulah lingkungan kerja…
Emang enakan bikin usaha sendiri,tapi modal dari mana kalo nggak menjadi pekerja dulu….
Ngikutin om Bob Sadino ahh… jadi seorang Entrepreneur… doain yah…
greetz to: Aryo, om joo, mas Lando, dek Pendi, Sevti
Tags: alasan, bingung, kantor, karir, karyawan, keluar, kerja, resign, usaha












15 comments so far
huy wan ,
memang sulit nebak teka teki di kantor kita,
w juga agk begitu tau masalah nya,
tapi artikel yang lu pasang itu memang salah satu PenyebaB na,
wlw gw udagh mau setahun kerja disana , w baru tau seluk beluk kantor baru2 ini
suka down memang, tapi klo kita masih mau enjOyd,n ngerasa tenang w akan jalani karier w disini,
tapi Temoat kerJa gak cuma temPat kita menghasilkan uang ,
tapi juga tempat kita yang buat nyaman, so semakin TemPat kiTa nyaman pasTi kita semakin asyik kerja n eNjoYd ,,
hmm lama2 kaNtoR kita Kya di SinEtRon YHupp……..
banyak haL yang terjdi SaMpe suRat kaleNG yang Isi nya menGejuTkan itu,,,
April 19th, 2008 at 13:23
Well… That’s called “real life” my friend… We ain’t life in “UTOPIA”. Be strong and be the survivor… SALUTE…
April 25th, 2008 at 22:57
Semuanya mencari Penghasilan Lebih “Baik”
July 7th, 2008 at 11:20
Thx banget utk petikan bukuna…
prinsif ku ketika bekerja ama orang lain.. “selama aq masih dihargai disana.. aq akan tetap loyal.. akan tetapi aq gak juga bakal tutup mata untuk melihat keadaan tempatku kerja”
March 12th, 2009 at 13:58
Betul memang kita bukan tidak mencintai pekerjaan kita. Tapi seringkali kita dieksploitasi sana-sini tanpa dihargai bahwa kita ini orang yang perlu istirahat dan punya keluarga. Terus terang saya pribadai merasa sebagai karyawan berbakat. Tapi atasan malah memanfaatkan saya untuk mengerjakan semua kerjaan. Gelas pun ada batasnya, kalau diisi terlalu banyak bakalan tumpah. Tapi tumpahan itu malah jadi bahan cacian. Sakit hati ini membuatku ingin meninggalkan perusahaan. Bukan pekerjaannya yang saya benci, tapi atasan yang ingin saya hindari. Sistem manajemen SDM sudah borok….. Saatnya mencari tempat baru yang membuat saya lebih sehat.
December 17th, 2009 at 15:18
Very nice site! cheap viagra
January 7th, 2010 at 11:39
Well, memang sulit untuk menghadapi bos yang tidak menghargai dan sangat arogan. Saya mengadapi hal tsb dan sekarang saya sudah tekadkan untuk resign. Saya sadari kalau saya bekerja selain meningkatkan kualitas finansial juga kualitas diri (aktualisasi diri). So kalo lingkungan kerja membuat kualitas diri semakin buruk, I’ll rebel…
January 9th, 2010 at 12:20
Very nice site! is it yours too
March 9th, 2010 at 02:53
Very nice site! [url=http://apxoiey.com/qoxvt/2.html]is it yours too[/url]
March 31st, 2010 at 00:42
Very nice site! is it yours too http://apxoiey.com/qoxvt/4.html
March 31st, 2010 at 00:43
Setelah pusing ini dan itu akhirnya saya menemukan jg alasan utk resign saat ini.
Thanks ya mas.
Saya t’masuk org yg ckp loyal dgn perusahaan. Tapi akhir2 ini bos saya sudah tdk dpt diajak bekerja sama lagi. Saya sedikit merasa tertekan karena merasa sdh tdk dibutuhkan lg oleh perusahaan meski teman2 kerja saya selalu memberikan dorongan dan motivasi.
Dan pada akhirnya saya memutuskan utk resign bukan krn alasan suasana kerja atau yg lain tapi karena sdh menyangkut harga diri saya sebagai karyawan karena sudah tdk dianggap.
April 22nd, 2010 at 23:31
Hello! afkfgad interesting afkfgad site!
July 2nd, 2010 at 19:47
[…] Kalimat di atas adalah potongan yang saya kutip dari http://www.ridwanforge.net/blog/sindrom-resign-di-kantor-kenapa-yah. […]
August 1st, 2010 at 14:09
Hello!
cialis ,
August 31st, 2010 at 14:58
your new share!
September 1st, 2010 at 08:16
Leave a Reply